Rabu, 27 Maret 2013
Demo universitas kanjuruhan,rabu 27/03/2013
Hari ini sedikit terjadi kekacauan di kampus..mahasiswa demo terhadap yayasan di sekitar kampus Unikama.PIHAK YAYASAN telah di curigai mahasiswa karena adanya ketidakadilan dua lisme yang m ebuat mahasiswa sedikit banyaknya ada yang belum mengetahui kejadian ini...sampai mahasiswa membuat aksi demo terhadap dua lisme tersebut
Selasa, 26 Maret 2013
Untukmu Penghianat
"Cara terbaik untuk melupakan seorang pengkhianat, adalah mensyukuri perpisahanmu dengannya."
Tentangmu
Engkau yang sedang merindukan cinta, tapi yang hatinya penuh curiga dan marah, dengarlah ini ...
Damaikanlah hatimu. Hati yang gerah dan gelisah tak sesuai bagi berseminya cinta.
Mulailah dari memperlakukan dirimu sendiri dengan penuh kasih, agar perlakuanmu kepada sesama menjadi lembut dan anggun.
Ketahuilah, bahwa keanggunanmu menarik bagi calon belahan jiwa yang lembut dalam kasihnya dan gagah dalam kesetiaannya.
Semoga hari ini Tuhan memendarkan sinar kasihNya kepadamu, yang menjadikan sebaik-baiknya jiwa tertarik kepada hati dan wajah baikmu.
Damaikanlah hatimu. Hati yang gerah dan gelisah tak sesuai bagi berseminya cinta.
Mulailah dari memperlakukan dirimu sendiri dengan penuh kasih, agar perlakuanmu kepada sesama menjadi lembut dan anggun.
Ketahuilah, bahwa keanggunanmu menarik bagi calon belahan jiwa yang lembut dalam kasihnya dan gagah dalam kesetiaannya.
Semoga hari ini Tuhan memendarkan sinar kasihNya kepadamu, yang menjadikan sebaik-baiknya jiwa tertarik kepada hati dan wajah baikmu.
Motivasi
Untukmu, jiwa baik yang masih sendiri:
Tuhan Yang Maha Cinta,
Bisakah kekasih kecilMu ini memohon,
dalam upayaku mengunduh rezekiMu hari ini,
Kau temukan aku dengan pribadi baik
yang hatinya menghangatkan hatiku yang sendiri ini,
yang wajahnya meneduhkan wajahku,
yang senyumnya mengindahkan dunia bagiku,
yang kata-katanya berirama dengan merdunya musik surgawi,
dan yang senyumnya menggelorakan semangat hidupku?
Tuhan, jatuhkanlah aku dalam cinta yang indah
dan memuliakan diriku dan dirinya.
Wahai Sang Maha Cinta,
Sandingkanlah aku dalam pernikahan yang penuh cinta,
yang mesra, yang setia sampai bercucu-cicit,
dan yang tumbuh dalam keluarga yang rukun dan sejahtera.
Aamiin
Tuhan Yang Maha Cinta,
Bisakah kekasih kecilMu ini memohon,
dalam upayaku mengunduh rezekiMu hari ini,
Kau temukan aku dengan pribadi baik
yang hatinya menghangatkan hatiku yang sendiri ini,
yang wajahnya meneduhkan wajahku,
yang senyumnya mengindahkan dunia bagiku,
yang kata-katanya berirama dengan merdunya musik surgawi,
dan yang senyumnya menggelorakan semangat hidupku?
Tuhan, jatuhkanlah aku dalam cinta yang indah
dan memuliakan diriku dan dirinya.
Wahai Sang Maha Cinta,
Sandingkanlah aku dalam pernikahan yang penuh cinta,
yang mesra, yang setia sampai bercucu-cicit,
dan yang tumbuh dalam keluarga yang rukun dan sejahtera.
Aamiin
Rabu, 20 Maret 2013
Untukmu Uciill...
CINTA GILAKU…
Tersenyumlah saat kau
mengingatku
krn
saat itu aku sangat merindukanmu
Dan
menangislah saat kau merindukanku
karena….saat
itu aku tak berada disampingmu
Tetapi
pejamkanlah mata indahmu itu
krn……saat
itu aku kan terasa ada didekatmu
krn…….aku
tlah berada dihatimu utk selamanya
tak
ada yg tersiksa lg utkku selain kenangan2 indah bersamamu
mata
yg dengannya aku melihat kehindahan cinta
mata
indah tg dahulu adalah milikku
kini
semuanya terasa jauh meninggalkanku
Kehidupanku
terasa kosong tanpa keindahanmu
Hati,
cinta, dan rinduku adalah milikmu
cintamu
takkan pernah membebaskanku
bagaimana
mungkin aku kan terbang mencari cinta yg lain
saat
sayap2ku tlah patah karnmu
cintamu
akan tetap bersamaku hingga akhir hayatku
dan..setelah
kematian
hinnga
tangan tuhan akan menyatukan kt lg
betapapun
hati mgkin telah terpikat oleh sosok terang
dalam
kegelapan hatiku tg tengah menghidupkan sinar redupku
namun
tak dapat menyinari hariku
dan
menghangatkan perasaanku yg sesungguhnya
aku
takkan pernah menemukan cinta yg lain selain cintamu
krn
mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dlm jiwaku
kau
takkan pernah terganti meski kau sudah punya penggantiku
dihatimu………bagai
pecahan logam yg mengekalkan
kesunyian,
kesendirian, dan kesedihanku
kini
aku tlah kehilanganmu
cinta
gilaku
UNTUKMU UCILL….(:)
KARENA MEREKA BEGITU BERHARGA
KARENA
MEREKA BEGITU BERHARGA
tersenyum untuk mereka
bahagia demi mereka
tertawa untuk mereka
karena mereka
bahagia demi mereka
tertawa untuk mereka
karena mereka
saat bibir lelah
saat mata terpejam
saat terakhir melihat
mereka ada
saat mata terpejam
saat terakhir melihat
mereka ada
tak lama nafas terhenti
ketika aliran darah menyempit
saat tak ada lagi senyum
mereka ada
ketika aliran darah menyempit
saat tak ada lagi senyum
mereka ada
aku ada
aku bahagia
aku tertawa
karena mereka
aku bahagia
aku tertawa
karena mereka
karena mereka…
oleh; petrus
SEANDAI KULIAH ITU MUDAH
AKU INGIN PULANG
Setapak demi setapak telah kutempuh
Penuh suka, duka, semangat dan peluh
Kini ku ingin kembali
Meniti hidup bersama orang yang kucintai
Langkah demi langkah telah kupijakkan
Berhias rintangan dan perjuangan
Kini ku ingin pulang
Bercanda ria dengan orang tersayang
Hari demi hari telah berlalu
Berhias cinta dan rasa pilu
Kini ku ingin bersama mereka
Hidup dengan keluarga tercinta
Ayah!! Bunda!!
Aku rindu
Aku rindu kasih mereka
Aku rindu senyuman mereka
Aku ingin cepat kembali
Kembali pada mereka yang kucintai
MITOS KANGJENG RATU KIDUL
MITOS KANGJENG RATU KIDUL
|
|
Di dalam karaton banyak ditemukan berbagai macam
lambang dalam segi kehidupan, dimulai dari bentuk dan cara mengatur bangunan,
mengatur penanaman pohon yang dianggap keramat, mengatur tempat duduk,
menyimpan dan memelihara pusaka, macam pakaian yang dikenakan dan cara
mengenakannya, bahasa yang harus dipakai, tingkah laku, pemilihan warna dan
seterusnya. Karaton juga menyimpan dan melestarikan nilai-nilai lama,
mengenal folkfor dan beberapa mitos.
|
Mitos
yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat dan komunitas karaton
adalah mitos Kangjeng Ratu Kidul. Kedudukan mitos itu sangat menonjol, karena
tanpa mengenal mitos Kangjeng Ratu Kidul, orang tidak akan dapat mengerti makna
dari tarian pusaka Bedhaya Ketawang, yang sejak Paku Buwana X naik tahta,
setiap setahun sekali tarian itu dipergelarkan. Tanpa mengenal mitos itu makna
Panggung Sangga Buwana akan sulit dipahami, demikian pula mengenai tahayul yang
dikenal rakyat sebagai lampor.
Terdapat
berbagai macam versi mitos Kangjeng Ratu Kidul antara lain berdasarkan cerita
pujangga Yosodipuro. Di kerajaan Kediri, terdapat seorang putra raja Jenggala
yang bernama Raden Panji Sekar Taji yang pergi meninggalkan kerajaannya untuk
mencari daerah kekuasaan baru. Pada masa pencariannya sampailah ia di hutan
Sigaluh yang didalamnya terdapat pohon beringin berdaun putih dan bersulur
panjang yang bernama waringin putih. Pohon itu ternyata merupakan pusat
kerajaan para lelembut (mahluk halus) dengan Sang Prabu Banjaran Seta sebagai rajanya.
Berdasarkan
keyakinannya akan daerah itu, Raden Panji Sekar Taji melakukan pembabatan hutan
sehingga pohon waringin putih tersebut ikut terbabat. Dengan terbabatnya pohon
itu si Raja lelembut yaitu Prabu Banjaran Seta merasa senang dan dapat menyempurnakan
hidupnya dengan langsung musnah ke alam sebenarnya. Kemusnahannya berwujud
suatu cahaya yang kemudian langsung masuk ke tubuh Raden Panji Sekar Taji
sehingga menjadikan dirinya bertambah sakti.
Alkisah,
Retnaning Dyah Angin-Angin adlah saudara perempuan Prabu Banjaran Seta yang
kemudian menikah dengan Raden Panji Sekar Taji yang selanjutnya dinobatkan
sebagai Raja. Dari hasil perkawinannya, pada hari Selasa Kliwon lahirlah putri
yang bernama Ratu Hayu. Pada saat kelahirannya putri ini menurut cerita,
dihadiri oleh para bidadari dan semua mahluk halus. Putri tersebut diberi nama
oleh eyangnya (Eyang Sindhula), Ratu Pegedong dengan harapan nantinya akan
menjadi wanita tercantik dijagat raya. Setelah dewasa ia benar-benar menjadi
wanita yang cantik tanpa cacat atau sempurna dan wajahnya mirip dengan wajah
ibunya bagaikan pinang dibelah dua. Pada suatu hari Ratu Hayu atau Ratu
Pagedongan dengan menangis memohon kepada eyangnya agar kecantikan yang
dimilikinya tetap abadi. Dengan kesaktian eyang Sindhula, akhirnya permohonan
Ratu Pagedongan wanita yang cantik, tidak pernah tua atau keriput dan tidak
pernah mati sampai hari kiamat dikabulkan, dengan syarat ia akan berubah
sifatnya menjadi mahluk halus yang sakti mandra guna (tidak ada yang dapat
mengalahkannya).
Setelah
berubah wujudnya menjadi mahluk halus, oleh sang ayah Putri Pagedongan diberi
kekuasaan dan tanggung jawab untuk memerintah seluruh wilayah Laut Selatan
serta menguasai seluruh mahluk halus di seluruh pulau Jawa. Selama hidupnya
Ratu Pagedongan tidak mempunyai pedamping tetapi ia diramalkan bahwa suatu saat
ia akan bertemu dengan raja agung (hebat) yang memerintah di tanah Jawa. Sejak
saat itu ia menjadi Ratu dari rakyat yang mahluk halus dan mempunyai berkuasa
penuh di Laut Selatan.
Kekuasaan
Ratu Kidul di Laut Selatan juga tertulis dalam serat Wedotomo yang berbunyi:
Wikan wengkoning
samodra,
Kederan wus den
ideri,
Kinemat kamot hing
driya,
Rinegan segegem dadi,
Dumadya angratoni,
Nenggih Kangjeng Ratu
Kidul,
Ndedel nggayuh
nggegana,
Umara marak maripih,
Sor prabawa lan wong
agung Ngeksiganda.
Yang
artinya : Mengetahui/mengerti betapa kekuasaan samodra, seluruhnya sudah
dilalui/dihayati, dirasakan dan meresap dalam sanubari, ibarat digenggam
menjadi satu genggaman, sehingga terkuasai. Tersebutlah Kangjeng Ratu Kidul,
naik ke angkasa, datang menghadap dengan hormat, kalah wibawa dengan raja
Mataram.
|
|
Ada
versi lain dari masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menceritakan bahwa pada
jaman kerajaan Pajajaran, terdapat seorang putri raja yang buruk rupa dan
mengidap penyakit kulit bersisik sehingga bentuk dan seluruh tubuhnya jelak
tidak terawat.Oleh karena itu, Ia diusir dari kerajaan oleh
saudara-saudaranya karena merasa malu mempunyai saudara yang berpenyakitan
seperti dia. Dengan perasaan sedih dan kecewa, sang putri kemudian bunuh diri
dengan mencebur ke laut selatan.
|
Pada
suatu hari rombongan kerajaan Pajajaran mengadakan slametan di Pelabuhan Ratu.
Pada saat mereka tengah kusuk berdoa muncullah si putri yang cantik dan mereka
tidak mengerti mengapa ia berada disitu, kemudian si putri menjelaskan bahwa ia
adalah putri kerajaan Pajajaran yang diusir oleh kerajaan dan bunuh diri di
laut selatan, tetapi sekarang telah menjadi Ratu mahluk halus dan menguasai
seluruh Laut Selatan. Selanjutnya oleh masyarakat, ia dikenal sebagai Ratu
Kidul.
Dari
cerita-cerita mitos tentang Kangjeng Ratu Kidul, jelaslah bahwa Kangjeng Ratu
Kidul adalh penguasa lautan yang bertahta di Laut Selatan dengan kerajaan yang
bernama Karaton Bale Sokodhomas.
Mitos Pertemuan Kangjeng Ratu Kidul Dengan Penembahan
Senopati
Sebelum
Panambahan Senopati dinobatkan menjadi raja, beliau melakukan tapabrata di
Dlepih dan tapa ngeli. Dalam laku tapabratanya, beliau selalu memohon kepada
Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat membimbing dan mengayomi rakyatnya sehingga
terwujud masyarakat yang adil dan makmur.
Dalam
cerita, pada waktu Panembahan Senopati melakukan tapa ngeli, sampai di tempuran
atau tempat bertemunya aliran sungai Opak dan sungai Gajah Wong di dekat desa
Plered dan sudah dekat dengan Parang Kusumo, Laut Selatan tiba-tiba terjadilah
badai dilaut yang dasyat sehingga pohon-pohon dipesisir pantai tercabut beserta
akarnya, ikan-ikan terlempar di darat dan menjadikan air laut menjadi panas
seolah-olah mendidih. Bencana alam ini menarik perhatian Kangjeng Ratu Kidul
yang kemudian muncul dipermukaan laut mencari penyebab terjadinya bencana alam
tersebut.
Dalam
pencariannya, Kangjeng Ratu Kidul menemukan seorang satria sedang bertapa di
tempuran sungai Opak dan sungai Gajah Wong, yang tidak lain adalah Sang
Panembahan Senopati. Pada waktu Kangjeng Ratu Kidul melihat ketampanan
Senopati, kemudian jatuh cinta. Selanjutnya Kangjeng Ratu Kidul menanyakan apa
yang menjadi keinginan Panembahan Senopati sehingga melakukan tapabrata yang
sangat berat dan menimbulkan bencana alam di laut selatan, kemudian Panembahan
menjelaskan keinginannya
Kangjeng
Ratu Kidul memperkenalkan diri sebagai raja di Laut Selatan dengan segala
kekuasaan dan kesaktiannya. Kangjeng Ratu Kidul menyanggupi untuk membantu Panembahan
Senopati mencapai cita-cita yang diinginkan dengan syarat, bila terkabul
keinginannya maka Panembahan Senopati beserta raja-raja keturunannya bersedia
menjadi suami Kangjeng Ratu Kidul. Panembahan Senopati menyanggupi persyaratan
Kangjeng Ratu Kidul namun dengan ketentuan bahwa perkawinan antara Panembahan
Senopati dan keturunannya tidak menghasilkan anak. Setelah terjadi kesepakatan
itu maka alam kembali tenang dan ikan-ikan yang setengah mati hidup kembali.
Adanya
perkawinan itu mengandung makna simbolis bersatunya air (laut) dengan bumi
(daratan/tanah). Ratu Kidul dilambangkan dengan air sedangkan raja Mataram
dilambangkan dengan bumi. Makna simbolisnya adalah dengan bersatunya air dan
bumi maka akan membawa kesuburan bagi kehidupan kerajaan Mataram yang akan
datang.
Menurut
sejarah bahwa Panembahan Senopati sebagai raja Mataram yang beristrikan
Kangjeng Ratu Kidul tersebut merupakan cikal bakal atau leluhur para raja
Karaton Surakarta Hadiningrat. Oleh karena itu maka raja-raja karaton Surakarta
sesuai dengan janji Panembahan Senopati yaitu menjadi suami dari Kangjeng Ratu
Kidul. Dalam perkembangannya, raja Paku Buwana III selaku suami Kangjeng Ratu
Kidul mendirikan Panggung Sangga Buawana sebagai tempat pertemuannya.
Selanjutnya tradisi raja-raja Surakarta sebagai suami Kangjeng Ratu Kidul
berlangsung terus sampai dengan raja Paku Buwana X. Alkisah Paku Buwana X yang
merupakan suami Ratu Kidul sedang bermain asmara di Panggung Sangga Buwana.
Pada saat mereka berdua menuruni tangga Panggung yang curam tiba-tiba Paku
Buwana X terpeleset dan hampir jatuh dari tangga tetapi berhasil diselamatkan
oleh Kangjeng Ratu Kidul. Dalam kekagetannya itu Ratu Kidul berseru : “Anakku
ngGer…………..” (Oh……….Anakku). Apa yang diucapkan oleh Kangjeng Ratu Kidul itu sebagai
Sabda Pandito Ratu artinya sabda Raja harus ditaati. Sejak saat itu hubungan
mereka berdua bukanlah sebagai suami istri lagi tetapi hubungannya sebagai ibu
dan anak, begitu pula terhadap raja-raja keturunan Paku Buwana X.
PANGGUNG SANGGA BUWANA DAN MITOSNYA
Secara
mistik kejawen, Panggung Sangga Buwana dipercaya sebagai tempat pertemuan
raja-raja Surakarta dengan Kangjeng Ratu Kidul, oleh karena itu letak Panggugu
Sangga Buwana tersebut persis segaris lurus dengan jalan keluar kota Solo yang
menuju ke Wonogiri. Konon, menurut kepercayaan, hal itu memang disengaja sebab
datangnya Ratu Kidul dari arah Selatan.
|
|
Pada
puncak bangunan Panggung Sangga Buwana yang berbentuk seperti topi bulat
terdapat sebuah hiasan seekor naga yang dikendarai oleh manusia sambil
memanah. Menurut Babad Surakarta, hal itu bukan sekedar hiasan semata tetapi
juga dimaksudkan sebagai sengkalan milir. Bila diterjemahkan dalam kata-kata
sengkalan milir itu berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma, yang berarti tahun
1708 Jawa atau 1782 Masehi yang merupakan tahun berdirinya Panggung Sangga
Buwana (Naga=8, Muluk=0, Tinitihan=7, dan Janma=1)
|
Arti
lain dari sengkalan milir tersebut adalah: 8 diartikan dengan bentuknya yang
segi delapan, 0 yang diartikan dengan tutup bagian atas bangunan yangberbentuk
seperti topi, 7 adalah manusia yang mengendarai naga sambil memanah dan 1
diartikan sebagai tiang atau bentuk bangunannya yang seperti tiang.
Namun
demikian, sebenarnya nama Panggung Sangga Buwana itu sendiri juga merupakan
sebuah sengkalan milir yang merupakan kependekan dari kata Panggung Luhur
Sinangga Buwana. Dari nama tersebut lahir dua sengkalan sekaligus yang bila
diterjemahkan akan didapati dua jenis tahun yaitu tahun Jawa dan tahun Hijryah.
Untuk sengkalan tahun Hijryah, Panggung berarti gabungan dua kata, PA dan
AGUNG. Pa adalah huruf Jawa dan Agung adalah besar berarti huruf Jawa Pa besar
yaitu angka delapan. Sedangkan Sangga adalah gabungan kata SANG da GA yang
merupakan singkatan dari Sang atau sembilan dan Ga adalah huruf Jawa atau angka
Jawa yang nilainya satu. Serta kata Buwana yang artinya dunia, yang bermakna
angka satu pula. Dengan demikian menunjukkan angka tahun 1198 Hijryah.
Kemudian
untuk sengkalan tahun Jawa kata Panggung Luhur Sinangga Buwana. Panggung juga
tediri dari PA dan AGUNG yang berarti huruf Jawa Pa besar sama dengan 8. Luhur
mempunyai makna tanpa batas yang berarti angka 0. Sinangga bermakna angka 7 dan
Buwana bermakna angka 1. Shingga bila digabungkan mempunyai arti yang sama
yaitu tahun 1708 Jawa. Kedua tahun tersebut, baik tahun Jawa dan Hijryah bila
dimaksukkan atau dikonversikan ke tahun Masehi sama-sama menunjukkan angka
1782, saat pembangunan panggung tersebut.
Pada
Panggung Sangga Buwana masih didapati sebuah sengkalan milir yang pada jaman
penjajahan Belanda dirahasiakan adanya. Sebab diketahui sengkalan terakhir ini
berupa sebuah ramalan tentang tahun kemerdekaan Indonesia, sehingga jelas akan
menimbulkan bahaya apabila diketahui oleh Belanda. Selain itu yang namanya
ramalan memang tidak boleh secara gegabah diumumkan, mengingat ketakaburan
manusia yang dapat ditaksirkan akan mendahului takdir Tuhan.
Sengkalan
rahasia yang dimaksud adalah terletak pada puncak atas panggung yang telah
disinggung yaitu Naga Muluk Tinitihan Janma. Bentuk dari hiasan tersebut adalah
manusia yang naik ular naga tengah beraksi hendak melepaskan anak panah dari
busurnya, sedangkan naganya sendiri digambarkan memakai mahkota. Hal ini
merupakan
Sabda
terselubung dari Sunan PB III yang kemudian ketika disuruh mengartikan kepada
seorang punjangga karaton Surakarta yang bernama Kyai Yosodipuro, juga cocok
yaitu ramalan tahun kemerdekaan bangsa Indonesia adalah tahun 1945.
Naga
atau ular diartikan melambangkan rakyat jelata dan mahkotanya berarti
kekuasaan. Dengan demikian keseluruhan sosok naga tersebut menggambarkan adanya
kekuasaan ditangan rakyat jelata. Dan gambarkan manusia yang mengendarainya
dengan siap melepaskan anak panah diartikan sebagai sasaran, kapan tepatnya
kekuasaan berada ditangan rakyat.
Sebenarnya
sosok manusia mengendarai naga tersebut dipasang juga untuk mengetahui arah
mata angin dan tiang yang berada dipuncaknya dan digunakan untuk penangkal
petir. Hal tersebut oleh Kyai Yosodipuro dibaca sebagai sengkalan juga yaitu
keblat Rinaras Tri Buwana. Keblat = 4, Rinaras = 6, Tri = 3 dan Buwana = 1 atau
tahun 1364 Hijryah, bila dimasukan atau dikonversikan ke tahun Masehi akan
menjadi 1945 yang merupakan tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Sayangnya
bangunan Sangga Buwana beserta hiasan asli dipuncaknya itu pernah terbakar dilalap
api tahun 1954, tetapi hingga sekarang kepercayaan masyarakat dan legenda akan
bangunan tersebut tidak pernah punah sehingga mereka tetap menghormati dan
menghargainya dengan cara selalu melakukan upacara sesaji atau yang lazim
disebut caos dahar pada setiap hari Selasa Kliwon atau Anggoro Kasih, setiap
malam Jumat dan saat menjelang upacara-upacara kebesaran karaton.
Bangunan
Panggung Sangga Buwana apabila dilihat sebagai sumbu dari bangunan karaton
secara keseluruhan yang menghadap ke arah utara, maka semua Bangunan yang
berada di sebelah kiri Panggung Sangga Buwana mempunyai hubungan vertikal dan
yang sebelah kanan mempunyai hubungan horisontal. Hubungan vertikal tersebut
yaitu hubungan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai kegiatan spiritual misalnya :
bangunan Jonggring Selaka, Sanggar Palanggatan, Sanggar Segan, Mesjid
Bandengan, Mesjid Pudyasana, Mesjid Suranatan, Mesjid Agung, Gereja Protestan
Gladag dan Gereja Katolik Purbayan. Sedangkan hubungan horizontal yaitu
kegiatan duniawi manusia misalnya Pasar Gading, Pasar Kliwon, Pasar Gedhe, dan
sebelah timur lagi terdapat sarana transportasi Begawan Solo.
Panggung
Sangga Buwana juga mempunyai arti sebagai penyangga bumi memiliki ketinggian
kira-kira 30 meter sampai puncak teratas. Didalam lingkungan masyarakat Solo
terdapat sebuah kepercayaan bahwa bangunan-bangunan yang berdiri di kota Solo
tidak boleh melebihi dari Panggung Sangga Buwana karena mereka sangat
menghormati rajanya dan mempercayai akan kegiatan yang terjadi di puncak
bangunan tersebut sehingga apabila ada bangunan yang melanggarnya maka akan
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
BENTUK
PANGGUNG SANGGA BUWANA
Bentuk
fisik dari Panggung Sangga Buwana adalah segi delapan atau hasta walu dalam
istilah Jawa. Bentuk yang segi delapan itu diartikan sebagai hasta brata yang
menurut filosifi orang Jawa adalah sifat kepepimpinan, jadi diharapkan setiap
pemimpin mempunyai sifat yang demikian. Filsafat Jawa selalu berorientasi pada
alam karana dengan alam mereka dapat menikmati hidup dan merasakan komunikasi
batin manusia dengan Sang Pencipta. Orang Jawa juga mempercayai bahwa apabila
bangunan yang tidak menghiraukan alam lingkungan maka bangunan tersebut akan
jauh dari situasi manusiawi.
Ajaran
hasta brata atau delapan laku yang merupakan ajaran kepemimpinan bagi setiap
manusia. Dari ajaran tersebut diharapkan setiap pemimpin mempunyai sifat-sifat
seperti watak kedelapan unsur alam yaitu:
1. Matahari
yang diartikan sebagai seorang pemimpin harus dapat menjadi sumber hidup orang
lain.
2. Bulan
mengartikan penerangan dalam kegelapan.
3. Bintang
sebagai petunjuk arah bagi yang tersesat
4. Bumi
yang maksudnya seorang pemimpin yang baik harus kuat menerima beban hidup yang diterimanya.
5. Mendhung
diharapkan sebagai pemimpin tidak mempunyai sifat yang tidak pilih kasih.
6. Api
yang berarti mematangkan yang mentah
7. Samodra/Air
dimaksudkan bahwa pemimpin harus dapat memahami segala kebaikan dan keburukan
8. Angin
yang apabila berada dimanapun juga harus dapat membawa kesejukkan.
Seorang
pemimpin yang dihormati oleh rakyatnya karena rakyat mengharapkan dengan
hadirnya pemimpin yang mempunyai sifat demikian maka mereka pasti akan hidup
rukun, tentram dan damai sejahtera.
Dari
bentuk fisik bangunan Panggung Sangga Buwana juga melambangkan sebagai simbol
lingga yang yang berdampingan dengan yoni yaitu Kori Srimanganti. Dalam
kepercayaan agama hindu, lingga dan yoni melambangkan Dewa Shiwa atau Dewa
Kesuburan. Simbol lingga dan yoni juga terukir atau terekam dalam bentuk
ornamen di Kori Srimanganti yang berarti bahwa sebagai perantara kelahiran
manusia yang juga mengingatkan hidup dalam alam paberayan senantiasa bersikap
keatas dan kebawah serta ke kanan dan ke kiri. Hal ini semua mengandung arti
bahwa manusia harus selalu ingat adanya Yang Menitahkan dan sekaligus mengakui
bahwa manusia hanya sebagai yang dititahkan. Sedangkan ke kanan dan ke kiri
dapat diartikan manusia selalu hidup bermasyarakat.
Panggung
Sangga Buwana yang melambangkan lingga diartikan juga sebagai suatu kekuatan
yang dominan disamping menimbulkan lingga-yoni yang juga merupakan lapisan inti
atau utama dari urut-urutan bangunan Gapura Gladag di Utara hingga Gapura
Gading di Selatan. Lingga dan yoni merupakan kesucian terakhir dalam hidup
manusia, hal ini kemudian menimbulkan sangkang paraning dumadi yaitu dengan
lingga dan yoni terjadilah manusia. Jadi dengan kata lain kesucian dalam
hubungannya dengan filsafat bentuk secara simbolik dapat melambangkan hidup.
Panggung
yang dilambangkan sebagai lingga dan Srimanganti sebagai yoni, juga merupakan
suatu pasemon atau kiasan goda yang terbesar. Maksudnya, lingga adalah penggoda
yoni, dan sebaliknya yoni merupakan penggoda lingga. Seterusnya, panggung dan
kori itu juga merupakan lambang yang bisa diartikan demikian: seorang lelaki
dalam menghadapi sakaratul maut, yaitu ketika ia hampir berangkat menuju ke
hadirat Tuhan, ia akan sangat tergoda oleh wanita atau sebaliknya. Begitu pula
sebaliknya wanita, ketika dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa ia pun sangat tergoda
atau sangat teringat akan pria atau kekasihnya. Begitulah makna yang terkandung
atau perlambang yang terkandung di dalam Panggug Sangga Buwana bersama Kori
Srimanganti yang selalu berdekatan.
FUNGSI PANGGUNG SANGGA BUWANA
Versi
lain mengatakan bahwa Panggung Sangga Buwana ditilik dari segi historisnya,
pendirian bangunan tersebut disengaja untuk mengintai kegiatan di Benteng
Vastenburg milik Belanda yang berada disebelah timur laut karaton. Memang
tampaknya, walaupun karaton Surakarta tuduk pada pemerintahan Belanda, keduanya
tetap saling mengintai. Ibarat minyak dan air yang selalu terpisah jelas
kendati dalam satu wadah. Belanda mendirikan Benteng Vastenburg untuk mengamati
kegiatan karaton, sedangkan PB III yang juga tidak percaya pada Belanda, balas
mendirikan Panggung Sangga Buwana untuk mengintai kegiatan beteng.
Namun
tak-tik PB III sempat diketahui oleh Belanda. Setidaknya Belanda curiga
terhadap panggung yang didirikan itu. Dan ketika di tegur, PB III berdalih
bahwa panggung tersebut didirikan untuk upacara dengan Kangjeng Ratu Kidul
semata tanpa tendensi politik sedikitpun.
Lantai
teratas merupakan inti dari bangunan ini, yang biasa disebut tutup saji. Fungsi
atau kegunaan dari ruang ini bila dilihat secara strategis dan filosofis atau
spiritual adalah:
1.
Secara strategis, dapat digunakan untuk melihat Solo dan sekitarnya. Untuk
dapat melihat kota Solo dari lantai atas panggung dan tidak sembarangan orang
yang dapat menaiki, ada petugas yang memang bertugas untuk melihat dengan
menggunakan teropong atau kadang-kadang raja Surakarta sendiri yang melakukan
pengintaian. Pada jaman dulu raja sering naik keatas untuk melihat bagaimana
keadaan kota, rakyat dan musuh.
2. Segi
filosofi dan spiritualnya, Panggung Sanggga Buwana merupakan salah satu tempat
yang mempunyai hubungan antara Kengjeng Ratu Kencono Sari dengan raja Jawa
setempat. Hal yang memperkuat keyakinan bahwa raja-raja Jawa mempunyai hubungan
dengan Kangjeng Ratu Kidul atau Kangjeng Ratu Kencono Sari yang dipercaya
sebagai penguasa laut dalam hal ini di Laut Selatan dan raja sebagai penguasa
daratan, jadi komunikasi didalam tingkatan spiritual antara raja sebagai
penguasa didaratan dan Kangjeng Ratu Kencono Sari sebagai penguasa lautan
dikaitkan dengan letak geografis Nusantara sebagai negara maritim.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa ruang tutup saji ini digunakan sebagai:
- tempat
meditasi bagi raja, karena letaknya yang tinggi dan ruang ini memberikan
suasana hening dan tentram
- tempat
meraga sukma bagi raja, untuk mengadakan pertemuan dengan Kangjeng Ratu Kidul.
- Tempat
untuk mengawasi keadaan atau pemandangan sekeliling karaton.
Pada
lantai teratas digunakan untuk bersemedi raja dan pertemuan dengan Kangjeng
Ratu Kidul terdapt dua kursi yang diperuntukkan bagi raja (kursi sebelah kiri)
dan Ratu Kidul (kursi sebelah kanan) yang menghadap ke arah selatan. Arah
orientasi dari bangunan ini adalah ke selatan; pintu masuk dari arah selatan
dengan tujuan untuk menghormati Kangjeng Ratu Kidul sebagai penguasa Laut
Selatan. Diantara dua buah kursi terdapat sebuah meja yang digunakan untuk
meletakkan panggageman Kangjeng Ratu Kidul didalam sebuah kotak. Pangageman
tersebut diganti setiap tahun menjelang acara Jumenengan raja.
|
|
Menurut
cerita, pada saat mengadakan pertemuan dengan raja, Kangjeng Ratu Kidul
mengenakan pakaiannya dan seketika itu juga beliau berwujud seperti manusia.
Setelah pertemuan selesai, Kangjeng Ratu Kidul kembali ke alamnya dengan
sebelumnya mengembalikan ageman yang dikenakannya ke dalam kotak.
Didalam
ruang tutup saji yang berdiameter kira-kira 6 meter, pada bagian tepat
ditengah ruangan terdapat kolom kayu yang secara simbolis menunjukkan bahwa
segala kegiatan yang dilakukan di tutup saji mempunyai hubungan dengan Tuhan.
Kayu yang digunakan adalah kayu jati yang berasal dari hutan donoloyo yang
dianggap angker bagi orang jawa
|
BAHASA ALAYERS
Apa jadinya, jika sumpah pemuda hadir di tahun 2013 ini?
Mungkin akan seperti ini jadinya:
Loeh guweh satu bangsa gitu deh!
Loeh guweh satu bahasa… yah bahasa gawull
gtooh!
Loeh guweh satu tanah air, Endonesah
ciiiiinnn…
Sumpeeeeee loeeeee!
SIMPULAN PANJANG
Alay adalah singkatan dari Anak layangan, Alah lebay, Anak layu atau Anak
kelayapan yang menghubungkannya dengan anak jarpul (Jarang Pulang). Tapi yang
paling terkenal adalah Anak layangan. Dominannya, istilah ini menggambarkan anak
yang menganggap dirinya keren secara gaya busananya. Menurut Koentjaraningrat,
Alay adalah gejala yang dialami pemuda dan pemudi bangsa Indonesia, yang ingin
diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya
tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsissan yang cukup
mengganggu masyarakat pada umumnya. Diharapkan sifat ini segera hilang, jika
tidak akan mengganggu masyarakat sekitar.
Bahasa Alay secara
langsung maupun tidak telah mengubah masyarakat Indonesia untuk tidak
mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sebaiknya bahasa Alay
dipergunakan pada situasi yang tidak formal seperti ketika kita sedang
berbicara dengan teman. Atau pada komunitas yang mengerti dengan sandi bahasa
Alay tersebut. Kita boleh menggunakannya, akan tetapi jangan sampai
menghilangkan budaya berbahasa Indonesia. Namun dengan demikian keberadaan
Bahasa Indonesia juga bisa teruji dengan hal-hal yang baru sehingga bisa lebih
menguatkan Bahasa Indonesia itu sendiri.
Kurangnya kesadaran
untuk mencintai bahasa di negeri sendiri berdampak pada tergilasnya atau
lunturnya bahasa Indonesia dalam pemakaiannya dalam masyarakat. Salah satu
kebijakan untuk tetap melestarikan bahasa nasional adalah
pemerintah bersama segenap lapisan masyarakat menjunjung tinggi bahasa
Indonesia agar tetap menjadi bahasa yang dapat dibanggakan dan sejajar
dengan bahasa-bahasa di seluruh dunia. Bahasa Indonesia merupakan bahasa
resmi negara kita dan juga sebagai identitas bangsa. Untuk itulah, kita sebagai
generasi muda, harus cermat dalam memilih serta mengikuti trend yang ada.
Jangan sampai merusak budaya bahasa kita sendiri.
Tata bahasa Indonesia pada saat ini
sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat Indonesia khususnya para remaja,
sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya penggunaan
bahasa baru yang mereka anggap sebagai kreativitas. Jika mereka tidak
menggunakannya, mereka takut dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Salah
satu dari penyimpangan bahasa tersebut diantaranya adalah digunakannya bahasa
Alay.
SIMPULAN PENDEK
Bahasa adalah media
dasar komunikasi yang efektif yang tujuannya untuk menyampaikan informasi
sehingga pihak lain dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksut suatu pihak.
Informasi tersebut disampaikan dengan kata-kata,gerakan,gambar ataupun
tanda-tanda yang membuat pihak lain mengerti apa yang kita maksud , itulah
mengapa bahasa disebut sebagai alat komunikasi. Seperti yang kita ketahui
bersama, bahasa merupakan alat komunikasi yang utama. Tanpa bahasa kita tidak
akan bisa menyampaikan serta mengkomunikasikan maksud dan tujuan kita.
Penggunaan bahasa Alay memiliki dampak yang positif dan negatife. Dampak
positif dengan digunakannya bahasa Alay adalah remaja menjadi lebih creative.
Terlepas dari menganggu atau tidaknya bahasa Alay ini, tidak ada salahnya kita
menikmati tiap perubahan atau inovasi bahasa yang muncul. Asalkan dipakai pada
situasi yang tepat, media yang tepat dan komunikan yang tepat juga.
Sedangkan dampak negatifnya adalah
penggunaan bahasa Alay dapat mempersulit penggunanya untuk berbahasa Indonesia
dengan baik dan benar. Padahal di sekolah atau di tempat kerja, kita diharuskan
untuk selalu menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Langganan:
Postingan (Atom)